Beranda / Blog / Uzlah ku.

Uzlah ku.

Kota pensiun yang ku pijak ini begitu tak wajar. Lihat saja jam digital kubus dekat -CPU- ku itu terpajang menggerutu. “31,5 c ini tak biasa!” ketusnya.

Debu-debu itu berterbangan dengan lenggangnya. Hujan? Itu hanya cerita lalu.

Matahari begitu sakti dengan bulatan sempurnanya. Ah, tak kuasa mata ini memandangnya!

Bulir-bulir keringat bergelayutan di kening, hidung, bahkan ketiak. Lengket sudah sekujur tubuh.

Tapi….

Anak-anak tangga pendopo itu, suguhkan ketentraman. Coba kau perhatikan itu baik-baik!

Ombak-ombak kecil dari kayuhan pendayung -getek- dengan anggun bergemulai menyentuh dinding-dinding batu pondasi situ.

Jemari ini rasa-rasanya ingin menyentuh riakkannya, agar panas ini tak kembali menampar.

Selepas pulang nanti, kau menjadi telaga dalam benakku.

Artikel Lainnya

Ceritakan Lagi, Kek!

Kisah ini berawal dari sebuah rumah berdindingkan bambu yang teranyam. Di sana Seorang kakek sedang selengkapnya

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com