Beranda / Blog / Soto Ayam Untuk Sarapan Pagi Kali ini

Soto Ayam Untuk Sarapan Pagi Kali ini

Dua pekan sudah saya bergelut di ibu kota Jawa Barat, Bandung. Maka kepulangan saya untuk saat ini tiada lain untuk melarutkan rindu yang sudah mulai menggumpal didada. Rindu kepada keluarga disana itu sudah pasti, rindu dengan suasana rumah dan makanannya itu hal yang sulit dilupakan. Tapi untuk saat ini saya pulang ada misi lain. Ya, misi lain. Mungkin ini tanpa mengurangi rindu-rindu sebelumnya.
Menikmati suasana dibilangan jalan R.E. Martadinata yang teduh rindang pohon-pohon besar sepanjang trotoar dekat kampus SMA saya dulu. Lantas Situ Bulet menjadi kunjungan selanjutnya. Nampak beda kolam ikan raksasa ini. Taman-taman kota begitu asri dan ada puluhan burung dipenjara disana demi menghibur warga disekitar.
Ah, memang Situ ini begitu menghibur. Sejauh mata memandang kursi-kursi taman penuh oleh pengunjung yang berbagai status. Ya, berbagai status; pacar, suami, istri, anak, teman, paman, bibi, kakek, nenek, tukang dagang gulali, tukang baso, tukang warung rokok, tukang balon gas, penjual lumpia basah. Kompleks juga ternyata status mereka, kawan. 🙂

Perjalanan pun saya teruskan menuju Pasar Rebo. Pasar tradisional ini tetap ramai maklumlah tempat ini menjadi salah satu primadona bagi ibu-ibu rumah tangga. Sebab harga disini masih bisa ditawar sampai puas. Maka tak salah tempat ini menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi oleh warga Purwakarta, terutama para kalangan ibu rumah tangga. Ya, walau Toserba cukup lumayan digandrungi. Apa lagi di awal bulan. Saran saya lebih baik dipertengahan bulan, kawan. Awal bulan merupakan ajang pengurasan kocek gaji untuk stok sebulan.
Oh ya, Pasar Rebo menjadi tujuan saya berikutnya. Sebab -Joni- sepeda motor bebek andalan saya sudah cukup berjasa selama sebulan ini. Sekiranya pantaslah bagi saya untuk memberikan dia sebuah reward berupa perawatan tubuh disebuah bengkel kenamaan asal pabrikkan Joni berasal. Saya titipkan ia kepada pelayan SPA kenamaan khusus kendaraan bermotor ini.
Entah mengapa langkah kaki ini begitu cepat mengambil geraknya. Saya pun baru tersadar ternyata bukan lagi pikiran saya yang mengendalikkan. Entah bagaimana ini bisa terjadi unsur kimiawi perut kosong saya merontah-rontah dipagi ini, cari sarapan.
Trotoar pun saya susuri sembari melihat kiranya ada kuliner yang pas untuk sarapan kali ini. Kupat tahu, bubur ayam, kupat sayur gerobaknya telah saya lewati beberapa kali. Namun setiba didepan Gang yang cukup tenar dipasar Rebo ini. Gang Benteng namanya. Disana ada seorang wanita tua yang sedang meladeni pelanggannya dibalik meja dagangannya yang bertuliskan “Soto Ayam“.
Saya coba menyeberangi ruas jalan yang memisahkan jarak kami. Setibanya dimeja dagangan sederhananya, “Emak, soto na nyondong?” [1]
“Aya, Kasep.”[2] jawabnya sembari memuji khas orang tua kepada cucunya. Ia pun meracik semangkuk soto ayam pesanan saya. Ia begitu gesit menyayat sebongkah daging ayam goreng menjadi irisan-irisan kecil. Kemudian ia potong ketupat yang kata beliau, “Ieu mah teu ngangge pijer, kasep.”[3] Lantas ia campur bumbu-bumbu rahasia turun temurun dari kakeknya. Dan tahap akhir dengan cekatan ia aduk panci ukuran besar dengan air kaldu yang khas. Dan ini pun rahasia keluarga. Mangkuk itu pun ia siram dengan terampil. “Mangga, kasep ieu soto sareng cai nginum na.”[4] Ia sodorkan pesanan saya dan secangkir gelas bening berisi cairan keruh kecoklatan emas, teh.
Sungguh soto ini membuat saya menjadi manusia terlahap dipagi ini sepanjang jalan Pasar Rebo. Hahaha. Semangkok soto yang legit ini membuat saya penasaran, kok bisa sama yah rasanya, dengan soto yang dideket toko Arab yang udah gak jualan lagi itu? gumam saya.
“Emak jualan na tos lami?”[5] tanya saya penasaran sembari menyantap lagi.
“Tos lami Kasep, Emak mah nerus keun jualan ti aki Emak. Nu sok icalan na dipayuneun toko nu palih ditu.”[6] jelasnya sembari menunjuk lokasi dagangan sang kakek.
“Oh, pantesan atuh Emak. Abdi teh rarasan asa sami rasa na sareng nu ka pungkur dipalih ditu.”[7]
“Muhun, kapungkur mah ku pun bapa. Tah ayeuna ku Emak diteras keun.”[8] ceritanya sembari tertawa kecil ramah.
“Oh kitu Mak. Ari tanggungan na masih aya, Mak?”[9] tanya saya sembari nostalgia dulu di ajak Bapak saat SD.
“Hihihihi.” tawanya renyah, “Muhun, aya ari tanggungan mah dibumi. Ngan tos teu di angge deui kanggo icalan. Eta mah kenang-kenangan weh.”[10] sembari tersenyum, kemudian meneruskan kembali ceritanya, ” Da ieu weh Kasep nu di angge teh.”[11] jelasnya sembari mengacungkan centong yang terbuat dari batok kelapa dan bergagang kayu itu. “Tah ieu weh paninggalan ti pun Bapa teh.”[12] jelasnya dengan bangga.
Usianya sudah tidak muda lagi namun wanita murah senyum ini begitu bangga memegang tampuk warisan keluarganya, jualan soto ayam, Wanita yang saya rasa berkisar 70 tahunan ini masih begitu cekatan. Ia buka dagangannya tiap hari dengan dimulai dari jam setengah enam pagi demi estafeta warisan ini. Saking ramahnya, saat saya menikmati isi mangkuk digenggaman, tiba-tiba ada seorang pemuda yang agak feminim menghampirinya dan becerita bahwasannya tangannya baru saja terkena oli yang menjadi tangannya kotor. Emak yang sering disebut ‘Emak tukang soto’ ini hanya bisa menanggapinya dengan ramah dan hangat. Pikir saya soal namanya yang tak mau ia sebut itu, mungkin ia menganut peribahasa ini, “Apalah arti sebuah nama.” 🙂
Selepas saya khatamkan semangkok soto ayam yang legit ini, saya pamit dengan bertanya, “Sabarahaeun ieu teh Mak?”[13]
“Lima rebu, Kasep.” jawabnya sembari mengacungkan lima jari kanannya sambil bercanda.
“Mangga atuh Mak, Hatur nuhun.”[14]
“Sami-sami Kasep, tong hilap mampir deui nyak.”[15] pesannya
“Muhun Mak, insya Allah.” jawab saya dan melanjutkan langkah menuju joni yang sedang luluran. 🙂 []
>>>Tulisan ini terinspirasi pada hari Ahad kemarin, semoga berkesan bagi sahabat semua.<<<
Kamus mini :
[1] Emak sotonya ada?
[2] Ada, Ganteng.
[3] Ini nggak pakai pijer, ganteng.
[4] Silahkan, ini soto dengan air minumnya.
[5] Emak jualannya sudah lama?
[6] Udah lama, Ganteng. Emak tuh nerusin jualan dari Kakek Emak. Yang jualannya di depan toko
      sebelah sana.
[7] Oh, Pantesan Mak. Saya ngerasa rasanya sama dengan yang jualan disana dulu.
[8] Iya, dulu sama Bapak Saya. Sekarang Emak yang meneruskan.
[9] Oh, gitu Mak. Kalau gerobaknya masih ada Mak?
[10] Iya, masih ada kalau gerobaknya di rumah. Cuman sudah lama gak digunakan jualan. Itu
        kenang-kenangan.
[11] Ini saja yang sekarang digunakan.
[12] Nah, ini peninggalan dari Bapak Saya.
[13] Beapa harganya, Emak?
[14] Mari Mak, Terimakasih.
[15] Sama-sama Ganteng, jangan lupa mampir lagi kesini.

Artikel Lainnya

Ceritakan Lagi, Kek!

Kisah ini berawal dari sebuah rumah berdindingkan bambu yang teranyam. Di sana Seorang kakek sedang selengkapnya

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com