Beranda / Blog / Sebungkus Kacang Kulit Mengupas Sejarah

Sebungkus Kacang Kulit Mengupas Sejarah

Di Hari Tasyrik ini, saya sedang berduduk-duduk santai di Warung Mas Dedi sambil berbincang-bincang ringan dengan beberapa kawan sambil ditemani secangkir teh manis hangat dan satu bungkus kacang kulit. Tepat didepan warung melintang jalan raya yang bernama jalan Terusan Kapten Halim – Pondoksalam. Jalan yang kami pikir tak ada kisah penting di dalamnya. Jalan yang menghubungkan 3 (tiga) kecamatan ini begitu biasa pada umumnya. “Tapi ieu jalan teh boga andil euy dina jaman perjuangan baheula!” ujar Biho seorang kawan.

Saya terasa tergelitik ingin mengetahui sejarah lebih jauh tentang jalan yang ada di depan kami ini. Bila berdiskusi dengan kawan-kawan di hadapan saya seperti Biho, Urip, Daday mereka mempunyai argumentasi sejarah versi masing-masing. Ada yang bilang soal penamaan ini berasal karena untuk mengenang perjuangan Kapten Halim pada masanya, ada juga yang bilang biar match dengan tugu yang terpancang kokoh di daerah Lanca Darah. Apapun opini mereka mungkin secara rangakaian ini ada hubungannya; nama jalan, tugu, dan pejuang yang bernama Kapten Halim.

Pernah saya coba untuk mencari tahu dengan bertanya ke Mbah Google, dan hasilnya nihil sudah. Untuk mengetahui sosok sang kapten yang berjasa ini dijawabnya hanyalah sekedar nama jalan saja. Rupa-rupanya Mbah Google kehilangan kesaktiannya kali ini. Saya putuskan menemui salah satu sesepuh di daerah Pondoksalam, KH. Mahfudin. Beliau mengutarakan Jalan Kapten Halim ini merupakan cara untuk mengenang jasa sang Kapten dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan. Sebab perjuangan beliau dan pasukan menghalau penjajah Belanda yang luar biasa pada masanya itu pada tahun 1920-an, yaitu bagaimana Sang Kapten berhasil meledakkan tiga truk yang sedang mengangkut bala tentara kolonial di daerah Lanca Darah yang merupakan tempat terakhirnya berjuang. Beliau menjegal para bala pasukan kolonial dengan menggunakan kabel listrik yang di pancangkan di kedua sisinya ke pohon sebagai perangkap. kemudian menyergapnya dari sisi-sisi jurang dan tebing.

KH. Mahfudin sesepuh yang juga ulama besar di daerah kami ini melanjutkan tentang nama daerah kecamatan kita mengapa di beri nama Pondoksalam. Rupanya Pondoksalam ini dulunya merupakan tempat persinggahan bagi para pejuang dan masyarakat di jaman kolonial dulu. Tempat peristirahatan untuk jalur dari Purwakarata menuju Wanayasa yang dulu merupakan sentral pemerintahan. Sehingga daerah kami di namakan Pondoksalam yang terdiri dari dua suku kata yaitu Pondok dan salam, yang artinya Pondok itu tempat persinggahan dan Salam yang berarti keselamatan. Dan dapat di simpulkan Pondoksalam memiliki arti tempat persinggahan yang memberikan keselamatan. Rupanya daerah kami ini memiliki andil yang luar biasa pada jaman meraih kemerdekaan dulu.

Dan Saya rasa nama ini sebuah anugerah yang merupakan do’a. Tempat yang memberikan keselamatan itu bukankah makna yang begitu dalam yaitu memberi manfaat yang sebesar-besarnya.

***

Saya pun beranjak ke Warung Mas Dedi pagi esoknya dan kembali memesan teh hangat manis dan sebungkus kacang kulit. Sudah barang tentu perbincangan soal Jalan yang terputus kemarin pun saya jelaskan dengan gamblang sesuai dengan KH. Mahfudin bercerita kemarin. “Wah penting euy eta carita euy, Sajarah pisan euy!” ujar Biho dan di aamiin-kan oleh Urip dan Daday. Saya pun tersenyum lega telah berbagi ilmu yang sedikit ini.[]

Artikel Lainnya

Ceritakan Lagi, Kek!

Kisah ini berawal dari sebuah rumah berdindingkan bambu yang teranyam. Di sana Seorang kakek sedang selengkapnya

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com